Selasa , 30 September 2014
Home / Artikel / Kepala Sekolah Sebagai Emaslin: Masalah dan Upaya pemecahannya (Suatu Alternatif)

Kepala Sekolah Sebagai Emaslin: Masalah dan Upaya pemecahannya (Suatu Alternatif)

Pendahuluan

Pada saat ini bangsa Indonesia tengah melaksanakan pembangunan dalam situasi ACFTA (Asean China Free Trade Area) yang dimulai tahun 2010. Pembangunan ini adalah konsekwensi dari era industrialisasi dan globalisasi. Guna menyiasati perkembangan dunia yang semakin maju terutama teknologi yang kian canggih, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas manusia tersebut meliputi kemampuan fisik, intelektual, keterampilan dan moralitas yang baik.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dan mutlak guna menunjang tantangan jaman. Pendidikan tersebut meliputi pendidikan informal, formal dan non formal. Pendidikan formal terutama pendidikan dasar sangat menentukan keberhasilan jenjang pendidikan selanjutnya. Bila pendidikan dasar, menengah, dan tinggi terlaksana dengan baik maka kualitasnya dapat dipastikan meningkat, sebaliknya bila pendidikan tersebut gagal maka akan menimbulkan dampak negatif baik secara psikis maupun kerugian material.

Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional melalui UU No. 20 tahun 2003 jelas menunjukkan bahwa pendidikan sebagai usaha untuk menyiapkan peserta didik bagi perannya di masa mendatang, Sedangkan peserta didik adalah semua anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri melalui proses pendidikan maka pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global.

Manajemen sekolah sebagai suatu bagian proses dalam pendidikan meliputi manusia, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisa masalah yang menyangkut semua aspek program sekolah (merancang, melaksanakan, menilai atau mengevaluasi, mengelola dan memecahkan masalah demi perbaikan). Melalui manajemen sekolah baik dan benar serta dijalankan oleh pimpinan sekolah (Kepala Sekolah) yang profesional, cakap dan berdedikasi dapat memungkinkan proses pendidikan bermutu. Seperti diketahui bahwa tugas pokok Kepala Sekolah memegang peranan strategis dalam membawa arah pendidikan yang mampu menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Tugas Pokok Kepala Sekolah

Sekolah sebagai suatu tempat proses belajar mengajar yang baik sekurang-kurangnya memiliki murid, guru dan gedung. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah harus ada pimpinan. Pimpinan ini disebut Kepala Sekolah dibantu oleh wakil atau guru yang ada. Kepala Sekolah sebagai “EMASLIN” mempunyai tugas sebagai berikut:

  1. Edukator (E)
    1. Mampu membimbing guru
    2. Mampu membimbing karyawan
    3. Mampu membimbing siswa
    4. Mampu mengembangkan staf
    5. Mampu belajar mengikuti perkembangan IPTEK
    6. Mampu memberikan contoh mengajar yang baik
  2. Manajer (M)
    1. Kemampuan menyusun program sekolah
    2. Kemampuan menyusun organisasi kepegawaian di sekolah
    3. Kemampuan menggerakkan sraf (guru dn karyawan)
    4. Kemampuan mengoptimalkan sumber daya sekolah
  3. Administrasi (A)
    1. Kemampuan mengelola administrasi sekolah (KBM/BK)
    2. Kemampuan mengelola administrasi Kesiswaan
    3. Kemampuan mengelola administrasi ketenagaan
    4. Kemampuan mengelola adminisrasi keuangan
    5. Kemampuan mengelola administrasi sarana/Prasarana
    6. Kemampuan mengelola administrasi
  4. Supervisi (S)
    1. Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan
    2. Kemampuan melaksanakan suprvisi pendidikan
    3. Kemampuan memanfaatkan hasil supervisi
  5. Leader (L) atau Pemimpin
    1. Memiliki kepribadian yang kuat
    2. Memahami kondisi guru, karyawan, siswa
    3. Memliki Visi dan memahami Misi Sekolah
    4. Mampu mengambil keputusan
    5. Kemampuan berkomunikasi
  6. Inovator (I)
    1. Kemampuan mencari/menemukan gagasan baru untuk pembaharuan sekolah (pendidikan)
    2. Kemampuan melakukan pembaharuan di sekolah
  7. Motivator (M)
    1. Kemampuan mengatur lingkungan kerja (Fisik)
    2. Kemampuan mengatur lingkungan kerja non fisik
    3. Kemampuan menetapkan prinsip penghargaan/hukuman

Masalah dan Upaya Pemecahannya

Masalah tugas pokok Kepala Sekolah sebagai “EMASLIN” yang dihadapi dewasa ini antara lain:

  1. Kurangnya informasi, kesiapan dan kompetensi sebagai Kepala Sekolah yang cakap dan terampil (khususnya bagi Kepala Sekolah pemula). Faktor ini yang sering membuat kurang percaya diri dalam melaksanakan tugas sebagai pimpinan. Upaya pemecahan yang dapat dilakukan melalui seleksi berjenang dengan berdasarkan kriteria dan kualifikasi yang sesuai dengan ketentuan yang ada (standar pendidik dan kependidikan), seperti; minimal mengajar 5 tahun di jenjang pendidikan, lulus tes seleksi (wawancara dan psikotes).
  2. Lemahnya manajemen dan supervisi sekolah yang dimiliki oleh Kepala Sekolah terutama dalam menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi program kerja sekolah. Upaya pemecahan yang dapat dilakukan melalui pembinaan, pelatihan dan tutor sebaya sebagai Kepala Sekolah dalam menangani persoalam pengelolaan sekolah yang muncul.
  3. Pengetahuan administrasi sekolah yang dikuasai oleh Kepala Sekolah masih kurang. Oleh karena itu perlu didukung oleh tim kerja administrasi yang handal (terampil). Upaya pemecahan yang dapat dilakukan dengan mengadakan sharring ataupun studi banding dengan pihak sekolah lain yang tertib dalam administrasi sekolah, mengikut sertakan guru dan tata usaha untuk mengikuti pelatihan adminitrasi sekolah.
  4. Kurang optimalnya proses belajar di sekolah, hal ini tampak dari hasil belajar yang belum mencapai ketuntasan, tidak bervariasinya penggunaan alat peraga yang ada, pengelolaan kelas dan pendampingan siswa yang bermasalah yang belum tertata dan terkelola dengan baik.. Upaya yang dapat dilakukan melalui supervisi dan monitoring secara rutin, pendampingan ataupun pembinaan guru secara individual dan klasikal perlu dijadwalkan serta dilaksanakan dengan semangat perubahan dalam pencapaian prestasi belajar siswa.
  5. Kurangnya pengkajian atau analisa terhadap hasil evaluasi dan proses belajar mengajar di sekolah (data hasil evaluasi belajar dan mengajar belum dikaji dan ditindak lanjuti untuk pengembangan sistem pengembangan mutu). Upaya yang dapat dilakukan melalui kerja sama dengan Yayasan Bunda Hati Kudus (biro pendidikan atau perencanaan dan penelitian pendidikan) untuk mengadakan pelatihan analisa hasil evaluasi belajar siswa setiap ulangan harian atau semester, peningkatan sistem pengolahan data melalui komputerisasi, pengadaan papan statistik sekolah, rapat pengolahan data, analisa dan pengkajian, rekomendasi hasil analisis dan kajian data.
  6. Kurang optimalnya kegiatan ekstrakurikuler (minimnya tenaga pengajar serta alokasi pengunaan ruang secara full time). Upaya yang dapat dilakukan dengan merencanakan program ekstrakurikuler yang benar-benar berdampak pada posisi sekolah atau jenjang pendidikan mendasarkan pada anggaran yang ada, mendatangkan pengajar yang sesuai dan bersertifikat.melalui kerja sama dengan pihak lain.
  7. Kurang optimalnya peran serta masyarakat (rendahnya tingkat pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi kemajuan anaknya). Upaya yang dapat dilakukan bekerja sama dengan pihak orang tua siswa melalui komite sekolah untuk bersama membangun kesepahaman dalam rangka meningkatkan prestasi pendidikan siswa melalui pertemuan atau pelaksanaan rapat kerja dengan komite sekolah, sosialisasi program sekolah, pelaksanaan program sekolah dan evaluasi secara berkala serta melaksanakan kemitraan dengan pihak lembaga lain dalam rangka meningkatkan program pembelajaran dan kegiatan siswa yang berkualitas untuk menjawab tuntutan kurikulum dan tantangan global yaitu terciptanya pembelajar yang mempunyai kemampuan iptek dan bermartabat.

Penutup

Mendasarkan hambatan dan upaya alternatif pemecahannya terhadap tugas pokok Kepala Sekolah sebagai “EMASLIN” tersebut di atas, diharapkan mampu menjawab persoalan manajemen sekolah yang saat ini tengah terus diupayakan baik dari aspek perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut program sekolah agar mencapai target dan tujuan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu semua pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya di tingkat dasar dan menengah harus terus menerus membenahi diri untuk memenuhi delapan standar pendidikan nasional dan mengembangkannya (standar isi, kompetensi lulusan, proses, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan pendidikan, pembiayaan pendidikan, penilaian pendidikan). Sehingga salah satu tujuan negara Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang tertuang dalam UUD 1945 dapat terwujud.

Referensi

  1. Dr. Hubertus Kasan Hidayat, Buku Panduan Seminar “Kiat Yayasan Pendidikan Katolik untuk Meningkatkan Mutu Kelulusannya dengan Peningkatan Mutu Pengajaran dan Sumber daya Manusia, Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Jakarta: 2000.
  2. Depdiknas, Panduan Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: 2006.
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
  4. Soewadji Lazaruth, Kepala Sekolah dan Tanggung jawabnya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2000.